Kuliah 2

Kolonisasi di Amerika Latin

Periode tahun 1450 s.d. 1750 yang disebut sebagai periode eksplorasi itu dipelopori oleh Portugis dan Spanyol kemudian diikuti oleh Inggris, Prancis, Belanda, dan Swedia. Terdapat empat signifikansi dari periode eksplorasi tersebut, yakni:

  1. Bangsa Eropa belajar memanfaatkan laut sebagai jalur pelayaran;
  2. Bangsa Eropa berhasil “menemukan” daratan luas di belahan bumi barat yang sebelumnya belum pernah dipetakan sebab merupakan daerah yang tak dikenal (terra incognita) oleh bangsa Eropa dan kemudian setelah ditemukan disebut Dunia Baru (Novus Mundus atau New World);
  3. Penemuan rute pelayaran yang baru dan Dunia Baru tersebut memacu tumbuhnya penguasaan perdagangan di Asia maupun di Amerika; dan
  4. Perkembangan perdagangan dan penemuan kekayaan (terutama emas dan perak) di Dunia Baru itu secara berarti telah meningkatkan taraf perekonomian bangsa Eropa.

Koloni-koloni Spanyol dan Portugal di Amerika

Pada tahun 1500-an dan 1600-an, bangsa Eropa meningkatkan perdagangan dengan Asia. Namun seringkali para penguasa di Asia mendikte cara-cara perdagangan bangsa Eropa serta membatasi gerak mereka. Tetapi di Amerika, bangsa Eropa mempunyai pengalaman yang sangat berbeda. Mereka mendirikan koloni serta menguasainya. Spanyol dan Portugis merupakan dua bangsa yang pertama-tama mendirikan koloni di Amerika, yakni sejak awal tahun 1500-an. Bisa dikatakan bahwa benua Amerika adalah benua terakhir yang ditemukan oleh bangsa Barat, namun merupakan benua pertama yang terbaratkan.

Penaklukan Benua Amerika

Dengan Perjanjian Tordesillas, Spanyol mengklaim hak untuk menguasai seluruh Dunia Baru. Para penjelajah awal Spanyol mendengar kisah-kisah tentang kerajaan-kerajaan yang makmur di Amerika. Laporan-laporan seperti itu mendorong bagi ekspedisi baru berikutnya. Dengan tidak secara langsung membiayai ekspedisi, penguasa Spanyol memberi hak kepada conquistadores atau pasukan penakluk veteran perang reconquista, untuk mendirikan koloni di Dunia Baru. Sebagai “pajak”-nya, para conquistador itu setuju untuk memberikan seperlima dari emas atau harta karun yang mereka dapatkan di Amerika. Dengan demikian untuk melakukan ekspedisi, Raja tidak perlu banyak mengeluarkan biaya.

Beberapa penakluk yang terkenal:

  1. Hernando Cortez. Tahun 1519 mendarat di pantai Mexico untuk mencari emas. Dia segera mendengar kabar tentang adanya kerajaan Indian yang besar yaitu Aztec yang saat itu dipimpin oleh Raja Montezuma. Cortez kemudian beraliansi dengan suku-suku Indian yang membenci Montezuma. Dengan 400 orang pasukan dan 16 kuda, didatanginya Montezuma di ibukota Aztec, Tenochtitlan, dan dilakukannya negosiasi dengan Montezuma. Setelah berunding selama beberapa bulan, Montezuma akhirnya setuju menjadi bawahan kerajaan Spanyol. Tetapi pada tahun 1520 bangsa Aztec memberontak. Dengan bantuan aliansinya, Cortez mengepung Tenochtitlan dan kerajaan Aztec dihancurkannya pada tahun 1521. Dalam beberapa tahun kemudian hancur-leburlah kekaisaran Aztec.
  2. Francisco Pizarro. Sembilan tahun kemudian, penakluk yang bernama Francisci Pizarro bersama dengan 180 tentara Spanyol mendarat di Pantai Pasifik Amerika Selatan (di wilayah Peru sekarang). Pizarro mendengar bahwa kekaisaran Inca sedang berada dalam keadaan perang saudara. Dengan mengambil keuntungan dari keterpecahbelahan bangsa Inca tersebut, Pizarro menangkap pemimpin Inca, Atahualpa, dan mengeksekusi banyak perwira Inca. Pada tahun 1535 Pizarro menguasai seluruh kekaisaran Inca Raya termasuk ibukotanya Cuzco.

Dalam waktu 15 tahun dua kekaisaran besar di Amerika jatuh ke tangan para penakluk dari Spanyol. Beberapa faktor kejatuhan kerajaan tersebut:

  1. persenjataan bangsa Eropa lebih baik, yakni senjata api, yang sampai saat itu belum dikenal oleh bangsa Indian Amerika;
  2. bangsa Indian belum menjinakkan kuda untuk tunggangan. Sebagian mereka juga takut kepada kuda dan menganggap penunggangnya adalah dewa;
  3. bangsa Indian tidak memiliki kekebalan terhadap berbagai penyakit yang dibawa bangsa Eropa ke sana, seperti malaria dan demam berdarah;
  4. bantuan dari suku-suku Indian yang membenci pemimpin Inca maupun Aztec.

Selama kurun waktu satu abad (antara tahun 1500 s.d. 1600) jumlah penduduk asli Indian di Amerika merosot tajam. Sebagai contoh, di Mexico tengah diperkirakan bahwa pada tahun 1519 penduduk aslinya berjumlah kurang lebih 26 juta jiwa, tetapi di tahun 1605 merosot hingga tinggal 1 juta jiwa saja!

Kekaisaran Spanyol di Amerika

Setelah periode penaklukan itu, penguasaan Spanyol atas tanah Amerika berlangsung selama hampir 300 tahun. Bangsa Spanyol kemudian membagi wilayah kekuasaannya itu menjadi 5 provinsi (New Spain, New Grenada, Rio de La Plata, Peru, dan Kepulauan Hispaniola) dan di antaranya yang terpenting adalah provinsi New Spain (Mexico),dan Peru. Raja Spanyol menunjuk seorang viceroy sebagai wakilnya di setiap provinsi. Raja juga membentuk Council of the Indies. Dewan ini mengadakan sidang di Spanyol dan membuat peraturan-peraturan perundangan bagi koloni tersebut. Sekalipun demikian, antara viceroy dan Dewan seringkali bertentangan pendapat tentang pelaksanaan kekuasaan di Dunia Baru itu. Selain itu Raja juga menetapkan adanya pemerintah daerah yang penguasanya disebut cabildo atau Dewan Kota. Dewan Kota ini mempunyai kekuasaan yang ekstensif yang digunakan untuk melayani kemauan dan menyebarkan peradaban Spanyol.

Kebijakan-kebijakan Spanyol terhadap Penduduk Asli

Pada awal tahun 1500-an, para conquistador, pemukim, dan misionaris Kristen berdatangan ke koloni Spanyol itu. Penguasa Spanyol memberi hak mereka berupa encomiendas, yakni hak untuk meminta pajak atau tenaga kerja dari bangs Indian yang ada di sana. Pada mulanya encomiendas dimaksudkan untuk melindungi tanah-tanah bangsa Indian, tetapi kenyataannya hal ini berkembang menjadi sistem perbudakan dan kerja paksa yang mengikat bangsa Indian di tanah-tanahnya sendiri. Pemerintah Spanyol pada tahun 1542 akhirnya melarang memperbudak bangsa Indian, sekalipun larangan tersebut kadang-kadang tidak dihiraukan juga. Tetapi untuk menggantikan budak bangsa Indian itu kemudian para tuan tanah dan eksportir hasil perkebunan mulai mendatangkan budak hitam dari Afrika.

Kekaisaran Portugis di Brazil

Portugis mendirikan sistem penguasaannya sendiri di Brazil. Raja Portugis, John III, menunjuk seorang kapten jenderal untuk menjelajah koloni tersebut secara menyeluruh. Dia mendapati wilayah Brazil sangat luas (hampir 1/3 wilayah Amerika Selatan). Kemudian Raja mengangkat donatario atau tuan tanah untuk memerintah teritorial itu, dan sang tuan tanah tersebut mendaftar para pemukim yang akan bercocok-tanam atau berdagang di wilayah tersebut Pada tahun 1580, Brazil juga dikembangkan oleh Portugis sebagaimana wilayah lainnya dikembangkan oleh Spanyol. Portugis mendatangkan ribuan budak hitam untuk bekerja di perkebunan tebu. Di akhir tahun 1600-an, Portugis menemukan deposit intan dan zamrud di pedalaman Brazil. Akibatnya, beribu-ribu pemukim baru berdatangan ke Brazil.

Demikianlah, di tahun 1500-an hingga akhir 1600-an, baik Spanyol maupun Portugis mengokohkan kekaisaran koloninya di Amerika. Mereka memandang bahwa koloni baru tersebut merupakan sumber kekayaan yang bisa dieksploitasi demi keuntungan mereka sebesar-besarnya. Dan sejak tahun 1600-an, bangsa-bangsa Eropa lainnya mencoba mengambil bagian juga untuk mengkoloni wilayah Amerika dalam rangka memperoleh bagian kekayaannya:

  1. Spanyol menguasai sebagian besar Dunia Baru;
  2. Portugis menguasai wilayah Brazil;
  3. Inggris menguasai British Honduras dan British Guiana;
  4. Prancis menguasai Haiti dan French Guiana; dan
  5. Belanda menguasai Dutch Guiana atau yang sekarang disebut Suriname