Kuliah 1

Signifikansi Studi Amerika Latin

Kawasan Amerika Latin adalah bagian belahan selatan benua Amerika yang terdiri dari tiga sub-kawasan, yakni Amerika Tengah (Central America), “baskom” Karibia (Caribbean Basin), dan Amerika Selatan (South America).

 political-map 99

Istilah “Latin” untuk menyebut bagian dari benua Amerika sehingga menjadi “Amerika Latin” yang sekarang lazim digunakan itu sesungguhnya adalah sumbangan dari para penulis Prancis pada abad ke-19 sebagai suatu cara untuk meningkatkan kepemimpinan bangsa Prancis terhadap dunia Katolik dan Latin melawan kelompok masyarakat linguistik yang lain. Meskipun istilah itu secara geografis tidak sepenuhnya tepat dan tidak pula menunjukkan adanya kelompok etnik ataupun budaya yang tunggal bagi seluruh bagian kawasan tersebut, namun istilah Latin America lebih disukai dibandingkan dengan istilah Hispanic America yang dipopulerkan oleh orang-orang Spanyol serta para penulis Spanyol-Amerika tetapi ditolak oleh orang Brazil, sebab Brazil tidak dijajah Spanyol. Istilah lain kawasan tersebut yakni Ibero America dan Indo-Hispanic America,  namun kedua istilah yang terakhir ini tidak populer. Karena besarnya pengaruh Spanyol dan Portugal dalam sejarah Amerika Latin maka kadang dirasa lebih tepat digunakan istilah Ibero America (Ameriberia) daripada Amerika Latin. Namun apa boleh buat, istilah Amerika Latin telah terlanjur jauh lebih dikenal, dan itu pula yang akan digunakan dalam tulisan ini.

Mengapa Amerika Latin menarik untuk dipelajari? Ada beberapa alasan:

Pertama, Amerika Latin sering dipandang sebagai satu entitas. Padahal kawasan itu ditandai dengan berbagai perbedaan yang mencolok. Oleh karena itu diperlukan kecermatan dalam melakukan generalisasi terhadap gejala sosial dan politik yang terjadi di kawasan itu.

Kedua, Amerika Latin bukan hanya berbeda-beda, melainkan juga sebuah kawasan yang mengalami krisis identitas. Apakah Amerika Latin itu negeri Barat, Non-Barat, negeri yang sedang berkembang (developing countries/nations), Dunia Ketiga, atau apa? Jawabannya tentu sangat kompleks.

Jika dilihat dari letak geografisnya yang berada di belahan bumi bagian Barat (Western Hemisphere) dan dirunut dari akar sejarah hukum Romawi yang diterapkan di kawasan tersebut, yakni Katolikisme dan tradisi politik Iberian[1] maka Amerika Latin adalah negeri Barat. Tetapi kuatnya tradisi Luso-Hispanic[2] yang sangat berbeda dengan varian British yang terdapat di Amerika Utara membuatnya agak sulit menempatkannya sebagai bangsa Barat sebagaimana pengertian modern. Lebih-lebih juga disebabkan kuatnya pengaruh subkultur asli Amerika (“Indian Amerika”) dan subkultur Afrika (khususnya di sub-kawasan Karibia dan di Brazil), Amerika Latin lebih nampak non-Barat.

Ketiga, variasi keadaan alam, juga merupakan faktor pembedanya. Ada yang memiliki sumber alam yang sangat kaya seperti minyak di Venezuela dan Mexico, dan berbagai bahan pertambangan di Brazil, Chile, dan Peru. Namun di beberapa negara sangat sedikit sumber alamnya. Ada yang tanahnya sangat subur dan mendukung bagi industri pertanian, namuan di sebagian besar wilayah yang terletak di pedalaman, situasinya sangat sulit dan tanahnya kurang layak untuk pertanian, sehingga penduduknya pun sangat jarang. Penduduk Amerika Latin sebagian besar terkonsentrasi di daerah-daerah pinggiran pantai.

Keempat, dengan usia negara-negaranya yang rata-rata sudah lebih dari satu setengah abad, negara-negara di Amerika Latin tidak bisa lagi disebut sebagai negara baru. Namun demikian dinamika politiknya menunjukkan bahwa hampir semua jenis sistem politik telah dan sedang dicobaterapkan di berbagai negara di sana: mulai dari yang paling kiri seperti sosialisme-komunisme, sosialisme kanan, rezim otoritarianisme dalam berbagai variannya, sampai dengan sistem demokrasi liberal. Penerapan sistem politik itu di sebagian besar negara-negara Amerika Latin juga bersifat tentatif, seolah-olah mereka adalah negara-negara yang baru saja merdeka.

Kelima, Amerika Latin hampir tidak pernah disebut sebagai bagian dari Dunia Pertama[3] atau Dunia Kedua (Uni Soviet dan Eropa Timur), kecuali Cuba dan Nicaragua. Tetapi Amerika Latin juga sulit dimasukkan ke tipologi Dunia Ketiga.[4] Dengan kriteria manapun, hampir seluruh negara di Amerika Latin lebih maju daripada negara-negara Dunia Ketiga di Afrika maupun Asia. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kawasan Amerika Latin adalah kawasan transisional. Bahkan ada yang secara simpel mengatakan bahwa Amerika Latin hanyalah “halaman belakang” (backyard) Amerika Serikat, sehingga mempelajari Amerika Latin cukup dengan memahami doktrin politik luar negeri Amerika Serikat di kawasan tersebut. Padahal pendapat seperti itu menjadi nampak terlampau menyederhanakan, mengingat  — sampai batas tertentu — bargaining position negara-negara Amerika Latin terhadap Amerika Serikat pada berbagai bidang juga patut diperhitungkan.[5]

Keenam, khususnya bagi pembaca Indonesia, Amerika Latin bisa menjadi contoh atau model perkembangan negara yang dalam berbagai hal memiliki kemiripan dengan Indonesia: sama-sama mengalami penjajahan yang lama dan drainatif oleh bangsa Barat, sama-sama memiliki variasi budaya yang sangat matrikulatif dalam sebuah bingkai “ras Melayu.” Tetapi yang lebih penting, berbagai sistem politik juga pernah dicoba di Indonesia: demokrasi liberal, demokrasi terpimpin (sesungguhnya otoritarianisme personal), dan otoritarianisme birokratik Orde Baru serta masa transisi berikutnya ke rezim demokrasi liberal kembali yang disebut masa reformasi.[6] Demikian pula apabila kita berbicara mengenai pembangunan ekonomi, maka model-model pembangunan ekonomi Amerika Latin beserta masalah-masalah yang dihadapinya nampak mirip dengan apa yang berlangsung di Indonesia, misalnya masalah debt trap (jebakan utang luar negeri), masalah model industrialisasi, dan sebagainya. Demikian pula, masalah lingkungan hidup, banyak kalangan menyejajarkan Indonesia dengan Brazil dalam hal kekayaan hutan tropiknya, keanekaragaman hayati, deforestasi, dan sebagainya.

Namun demikian, di balik fakta yang sesungguhnya mengungkapkan banyak “kemiripan” tersebut, kenyataannya hubungan Indonesia dengan kawasan itu masih kurang intensif. Karya-karya mengenai studi Amerika Latin yang berbahasa Indonesia masih sangat sedikit,[7] apalagi yang disajikan secara lebih sistematis. Oleh karena itu kehadiran tulisan ini setidak-tidaknya merupakan sebuah upaya menerobos suasana remang itu agar lebih terang-benderang.

Hemat saya, alasan-alasan tersebut di atas adalah seperangkat “syarat cukup” yang menjadikan kawasan Amerika Latin patut mendapatkan perhatian yang lebih cermat dan serius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s